Sudahkah kita mencintai Nabi kita?
Banyak orang muslim yang mengaku cinta, padahal kebanyakan dari mereka tak sedikitpun mengenal Rasulullah Saw. Mengaku cinta, namun gaya hidup jauh dari contoh-contoh yang Rasulullah Saw. berikan. Lalu, apakah itu yang dinamakan mencintai nabi-Mu?
Cinta hadir karena adanya pengetahuan. semakin dalam pengetahuan terhadap sesuatu, semakin kuatlah cinta itu. Begitu pula dengan mencintai Rasulullah, kita harus belajar untuk mengenal lebih dekat, meski terpisah ratusan abad. Dengan cara : membaca macam-macam buku mengenai kisah Nabi Muhammad Saw, membolak-balik terjemahan Al-Quran, menonton film yang menceritakan perjuangan beliau dan merintih kepada Allah sambil berdoa. Agar kecintaan kita kepada Rasulullah tidak hanya dimulut saja melainkan, didalam hati dan jiwa kita.
Abu Bakar, ketika baru sadar dari pingsannya, pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Bagaimana keadaan Rasulullah?" Padahal, saat itu keadaannya sendiri sudah hampir mati dan darah terus mengucur dari hidungnya karena dianiaya kaum musyrikin.
Khubaib ibn Adi yang ketika itu ditangkap oleh kafir Quraisy dan hendak dibunuh, ketika diajukan pertanyaan, "Sukakah kamu jika Muhammad menggantikan posisimu di tempat ini?", Khubaib menjawab "Demi Allah, aku tidak suka jika Muhammad terkena duri di tempatnya sekarang ini, sementara aku duduk santai dengan keluargaku". ia pun dibunuh setelah sebelumnya menjalankan shalat dua rakaat.
Zaid bin Dutsnah yang memiliki kisah serupa dengan Khubaib ibn Adi. Ditengah berkecamuknya Perang Uhud dan tersebar desas-desus Nabi Muhammad Saw. telah terbunuh, seorang wanita berlari memasuki kancah peperangan dan mencari-cari Rasulullah Saw. Ia melihat saudara-saudaranya telah menjadi mayat. Begitu ia tahu Rasulullah Saw. masih hidup, wanita itu berkata, "Demi Allah, wahai Rasulullah, aku tidak akan memedulikan apapun yang menimpa diriku selama engkau selama"
Menjelang wafat, dalam keadaan yang sekarat, Rasulullah Saw. mengumpulkan para sahabat dan keluarganya. Semua menangis sedih melihat keadaan Rasulullah Saw. Beliau bertanya dengan suara lemah "Aadakah di antara kalian yang pernah aku sakiti?" Tak ada yang menjawab. RasulullahSaw. bertanya lagi hingga ketiga kalinya. Seorang laki-laki pun berdiri menuju Nabi, dialah Ukasyah ibn Muhsin. "Ya Rasul Allah, dulu aku pernah bersamamu di Perang Badar. Untaku dan untamu berdampingan, saat itu engkau melecutkan cambuk kepada untamu agar berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambung sampingku," ucap Ukasyah. Rasulullah lalu menyuruh Bilal mengambil cambuk di rumah Fatimah. Bilal tampak begitu berat menunaikan perintah Nabi. Ia tak ingin camuk yang dibawanya melecut tubuh sang kekasih, namun Bilal juga tidak berani melawan perintah Nabi. Segera setelah sampai, cambuk diberikan kepada Nabi dan dengan cepat cambuk berpindah ke tangan Ukasyah. Masjid seketika dipenuhi gemuruh suara para sahabat.
Tiba-tiba dibarisan terdepan maju sosok berwajah sendu dan berjanggut basah oleh air mata, Abu Bakar, dan sosok pemberani yang ditakuti para musuhnya di medan pertempuran, Umar bin Al-Khaththab. Mereka berkata, "Hai Ukasyah, pukullah kami berdua, sesukamu. Pilihlah bagian mana yang paling kau inginkan, qisas-lah kami." Rasulullah Saw. menggelengkan kepalanya dan menyuruh kedua sahabat itu duduk. Lalu Ali bin Abi Thalib pun berdiri di depan Ukasyah dengan berani. "Hai Hamba Allah, inilah aku yang masih hidup siap menggantikan qisas Rasul. inilah punggungku. ayunkan tanganmu sebanyak apapun, deralah aku". Rasulullah Saw. kembali menggeleng dan menyuruh Ali duduk.
"Hai Ukasyah, engkau tahu, kami ini kakak-beradik, kami adalah cucu Rasulullah Saw., kami darah dagingnya, bukankah ketika engkau mencambuk kami, itu artinya mencambuk Rasul juga". Hasan dan Husain tampil di depan Ukasyah. Namun Rasulullah menyuruh cucu yang sangat dicintainya itu untuk duduk.
Ukasyah berjalan ke arah Nabi. Kini tak ada lagi yang berdiri untuk menghalangi Ukasyah mengambil qisas. "Wahai Ukasyah, inilah ragaku, cambuklah sesukamu". Nabi selangkah mendekatinya. "Ya Rasul Allah, saat engkau mencambukku, tak ada sehelai kain pun yang menghalangi lecutan cambuk itu" ucap Ukasyah. Nabi Saw. tak berucap sepatah kata pun. Nabi Saw. melepaskan gamisnya dan tersingkaplah tubuh sucinya. Pekik takbir yang pilu mulai menggema. Melihat tubuh Nabi Saw. Ukasyah langsung membuang cambuknya dan berlari memeluk tubuh Nabi. Sepenuh cinta direngkuhnya Nabi, erat...erat... sekali. Tangisnya pecah. Perasaan rindu kepada Nabi ia tumpahkan saat itu. Ukhasyah menangis gembira, berteriak haru, gemetar bibirnya berucap, "Tebusanmu, jiwaku, ya Rasul Allah. Siapakah yang sampai hati meng-qisasa manusia mulia sepertimu. Aku hanya berharap tubuhku bisa melekat dengan tubuhmu hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan api neraka".
Subhanallah rasa cinta yang ditunjukan Ukasyah.
Bilal yang suara indahnya selalu dirindukan untuk mengumandangkan azan, setelah Rasulullah Saw. wafat tak mau lagi mengumandangkan azan. Itu karena ia selalu menangis tersedu-sedu hingga pingsan ketika mengucapkan, "Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah......"
Ketika Bilal hampir menemui ajalnya, istrinya menangis. Tapi Bilal berkata, "Sungguh gembiranya aku esok aku akan bertemu dengan orang-orang yang kukasihi. Muhammad dan sahabat-sahabatnya".
Sungguh luar biasa kisah cinta para sahabat nabi kepada kekasih Allah. Subhanallah....
Rasulullah Saw. pada khutbah terakhirnya berdoa "Mudah-mudahan Allah menetapkan kalian, mudah-mudahan Allah menjaga kalian, mudah-mudahan Allah menolong kalian, mudah-mudahan Allah meneguhkan kalian dan menguatkan kalian serta menjaga kalian..." Rasulullah yang mencintai umatnya ketika di sela-sela rasa sakit sakaratulmaut yang dahsyat-saat bernafas saja seolah melewati lubang jarum-masih sempat memohon lirih kepada Allah, "Ya Allah,,, dahsyat nian maut ini. Timpakan saja semua maut (rasa sakit) kepadaku, jangan kepada umatku.."
Rasulullah juga pernah menangis dan bersabda "Aku merindukan saudara-saudara seiman". Para sahabat bertanya "Bukankah kami saudara-saudara seimanmu ya Rasulullah?" Rasulullah menjawab "Kalian adalah sahabat-sahabatku. Saudara seimanku adalah kaum yang hidup setelahku, mereka beriman kepadaku, padahal mereka belum pernah melihatku".
Betapa indahnya, betapa terhormatnya disebut saudara oleh Baginda Nabi Saw. yang mulia. Untuk itu Allah memerintahkan kepada umatnya untuk sering-sering bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar